Showing posts with label FLP Bandung. Show all posts
Showing posts with label FLP Bandung. Show all posts

08 March 2014

BUKU AJAR KOAS RACUN

oleh Anis Wardani
Novel non-fiksi komedi karangan Andreas Kurniawan, dr ini bercerita tentang kehidupan suka duka menjadi koas yang diramu dengan gaya humor yang mengundang gelak tawa. Dalam penyajiannya diselipkan ilustrasi-ilustrasi meme sebagai bumbu dari cerita. Dalam novel terbitan Mediakita ini, terbagi dalam beberapa bab yaitu:
·         Koas  dan Jaga Malam
·         Kkoas dan Guru
·         Koas dan Praktikum
·         Koas dan tulisan
·         Koas dan Tidur
·         Koas dan Sakit
·         Koas dan Ujian
·         Koas dan Film
·         Koas dan Relasi dengan sesama
·         Tipe-Tipe Mahasiswa
·         Anda bertanya, Koas Racun Menjawab
Dalam bercerita, tak segan pengarang membuat klasifikasi yang tentunya dibuat secara subjektif untuk menambah menarik kisah yang dibawakan. Sebagai contoh pada halaman 47, Andrea membuat klasifikasi 3 jenis mahasiswa dalam kegiatan praktikum: tipe mahasiswa fisiologis, tipe mahasiswa anatomis, tipe mahasiswa patologis. Kemudian tipe-tipe ini diuraikannya dengan penjelasan secara deskriptif.

Salah satu kegiatan praktikum yang paling kompleks adalah praktikum biokimia dan fisiologi. Kompleksnya praktikum ini bukan karena namanya terdengar keren, tapi lebih karena prosedurnya yang memang rumit dan yang lebih tidak menyenangkan lagi adalah karena kami harus membuat laporan kegiatan praktikum tersebut.
Untungnya, anggota setiap kelompok umumnya terbagi rata dan selalu ada tiga jenis mahasiswa berikut ini dalam kegiatan praktikum:
1.       Tipe mahasiswa fisiologis:
Tipe mahasiswa aktif, yang tentu sudah membaca mengenai praktikum yang akan dilakukan dengan semurna dan siap mengerjakan laporan praktikum dengan sebaik-baiknya!
2.       Tipe mahasiswa anatomis:
Tipe mahasiswa yang tidak terlalu memperdulikan perannya dalam kegiatan praktikum, baginya yang penting adalah terlihat dalam kelompok, dan melengkapi kelompok praktikumnya agar menjadi suatu susunan anatomis yang lengkap.
3.       Tipe mahasiswa patologis:
Mahasiswa yang keberadaannya dalam tim malah menggangu kelancaran kinerja kelompok.
Kemudian tak jarang pula pengarang memberikan penjelasan atas penggunaan istilah asing bahasa kedokteran.
Dokter jaga saat itu mengatakan akan membimbing kami melakukan pungsi pleura (prosedur menggunakan jarum suntik mengambil cairan di rongga pleura tersebut dan mengalirkannya keluar), karena memang pungsi pleura adalah salah satu kompetensi tindakan medis  yang harus kami alami setidaknya satu kali selama di stase pulmonologi. (halaman 29)
Salah satu ciri khas buku ini adalah keberadaan ilustrasi meme . Untuk melihat lebih banyak ilustraswi meme lainnya dapat pula kita lihat di  http://koasracun.tumblr.com

Dalam proses kreatifnya, sebagian besar naskahnya dirampungkan saat Andrea menjalani penempatan di Majalengka. Materi cerita buku ini menarik karena mngangkat pengalaman mahasiswa kedokteran dimana cerita tentang keprofesian merupakan kisah yang masih minim di dunia penulisan dan hal ini mengundang rasa ingin tahu bagi sebagian orang .
Jika buku ini dihubungkan dengan media sosial seperti twitter @ndreamon dan facebook https://www.facebook.com/photo.php?fbid=282056458578630, serta tumblr  http://koasracun.tumblr.com maka akan kita lihat bahwa materi seperti ilustrasi meme maupun inspirasi cerita Buku Ajar Koas Racun bisa didapatkan disini.


02 April 2013

Bahwa yang Terlihat Hitam Tak Selamanya Hitam

Oleh Deti Rismayanti


Hyang Girinata pun tak kuat menahan badai berahinya. Dia hanya bisa terpana dan air kelakiannya memancar seperti permata, jatuh membasahi selembar daun sinom yang tengah melayang jatuh. Angin masih bertiup kencang dan daun sinom meliuk-liuk sebelum jatuh di paha Anjani.

(Madirda) *Bahkan para dewa sekalipun!


“Siapa sebenarnya engkau, duhai satria tampan?”

Satria itu tersenyum. “Namaku Ramawijaya. Dan ini adikku Lesmana. Kami putra Prabu Dasarata ari Ayodya.”

Aku membalas senyumnya dengan seringai. “Oh, rupanya engkaulah satria pelindung jagat itu. Aku memang sudah ditakdirkan perlaya di tangan titisan Wisnu. Tapi mengapa engkau memanahku dengan cara seperti ini? Apa salahku? Mengapa engkau memanahku secara tidak satria? Kalau seorang titisan dewata yang terkenal itu bertindak demikian tercela, bagaimana orang bisa membedakan kebajikan dan kejahatan? Lagi pula, aku bertempur dengan adikku sendiri dengan urusan pribadi. Mengapa engkau turut campur? Serta datang dengan gelar pasukan tak terkira? Aku tak pernah berpikir melibatkan rakyatku. Aku berharap bahwa setelah salah satu dari kami kalah, selesai pulalah persoalan. Tapi kini....”

(Kiskenda) *melanggar batas teritorial

Kuhadapi Rama meski aku tahu bahwa sudah tercatat di garis takdir aku akan perlaya di ujung Guwawijaya.

(Sang Angkara) *Sikap ksatria seorang Rahwana

Seperti dua sisi mata uang.

Benar dan salah, baik dan buruk. Keduanya tergantung pada dan dari sudut pandang mana kita melihatnya. Sebagai manusia, kita mewarisi separuh sisi syetan dan malaikat. Dalam diri setiap kita tentulah ada sisi baik yang lengkap dengan sisi buruknya. Karena seperti itulah kesempurnaan manusia. Manusia lengkap dengan ketidaksempurnaanya.

Kumcer Madirda ini benar-benar menyadarkan saya tentang satu realita kehidupan, bahwa apa yang kita tangkap sebagai putih itu belum tentu putih. Demikian juga dengan hitam. Yang terlihat hitam oleh kita belum tentu benar hitam, percayalah bahwa terkadang pandangan bisa menipu kita. :-)
 
Dan pada kumcer Madirda ini, kepiawaian Hermawan Aksan dalam memilih, mengambil, mengolah dan memainkan sudut pandang patut kita acungi jempol. Dengan rapi, Pak Her (demikian saya memanggil beliau) telah berhasil menyampaikan pesannya pada pembaca bahwa “tak ada warna putih di atas dunia” ini.

Selain sudut pandang, yang takkalah mencuri perhatian saya adalah kelihaian penulis dalam hal penokohan. Karakter setiap tokoh dalam kumcer ini terasa konsisten meski disorot dari sudut pandang yang berbeda. Kemudian diksinya. Menakjubkan! Dan cara Pak Her dalam menggambarkan apa yang ada dibalik keadaan sekitarnya pun cukup mengagumkan. Unik. Seperti ketika terjadi angin ribut (badai) yang ternyata sebenarnya pada saat itu para dewa tengah belingsatan karena tidak tahu harus berbuat apa dengan gejolak dada mereka yang takkuasa melihat pesona yang dipancarkan tubuh Anjani.

. . . .

Karena itu, biarlah aku mati dengan sepuas hati. Bahwa sebenarnya keangkaraanku yang terang-terangan tidaklah seberapa dibanding ribuan angkara yang bersaput wajah brahmana. Aku yakin, yang demikian lebih berbahaya dibanding sekedar angkara seorang Rahwana.

*Wow! Ini adalah salah satu paragraf yang membangun cerpen Sang Angkara. Coba kita perhatikan permainan kata-katanya! Mengesankan bukan? Dan tentu saja masih banyak paragraf lainnya yang bisa membuat kita (para pembaca) merasa terkesan. Atau bahkan lebih terkesan lagi.

  . . .


Saya rasa buku ini layak untuk dijadikan referensi bagi siapa saja yang memiliki minat dalam kepenulisan.  Sarat makna dan relatif “matang”. Terutama bagi saya yang masih harus banyak belajar. Buku ini akan saya jadikan salah satu pegangan. Banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari buku ini. Selamat membaca Madirda, Kawan! :-)

Baca juga http://www.skylart-publisher.com/2012/12/madirda-hermawan-aksan.html
Deti Rismayanti

Kamisan FLP Bandung, 28 Februari 2013

Menulis Tentang Wanita, Langkah Kecil Mengubah Dunia



Oleh Toto Setiadi

Pernahkah kamu mendengar efek kupu-kupu?
Satu kepak sayap kupu-kupu di Cina menyebabkan Badai di Amerika. Ubah satu ha kecil maka sebenarnya kamu akan mengubah banyak hal.

Aktivitas menulis, bisa menjadi bukan sedekar hobi belaka. Kegiatan yang pada dasarnya meramu dua puluh enam abjad tersebut dari huruf menjadi kata kemudian kalimat lalu paragraph berkembang menjadi bab hingga akhirnya terciptalah sebuah karya, atau bisa disebut sastra. Hal ini tampak sederhana mungkin kecil, tapi dibalik itu semua bila kita sandingkan dengan teori efek kupu-kupu, hanya kecil tersebut sebenarnya sedang menunggu waktu untuk meledak, bagai bom waktu, tapi kita kadang tak pernah tahu kapan dan dimana ledakan itu akan menggelegarnya.

Menulis pada dasarnya adalah berbagi ide, seorang penulis adalah orang sedang berbagi. Mereka berbagi berbagai idenya, tentang apa yang dirasa, ditemukan atau yang tengah meresahkannya, mungkin sekedar melepas galau juga yang tengah melilit pikirannya. Ide, jika kita tahu itu adalah barang yang sangat mahal, boleh jadi satu ide akan membentuk dua karya, tapi karya yang orisinal dari ide tersebut hanya akan terasa satu saja.

Bermula dari ide, gender akan bisa berubah-ubah. Manusia terdiri atas dua jenis, laki-laki dan wanita. Tak bisa diubah dan tak bisa meminta dari awal jenis mana yang akan tercetak pada diri kita, begitu lahir, kita hanya bisa menerima, itu adalah anugerah Tuhan. Dibalik kelaki-lakian atau kewanitaan itu ada fungsinya masing-masing yang mana sudah pula disesuaikan, tetapi kini seiring berlalunya waktu mengubah zaman fungsi-fungsi tersebut kadang berontak, bagai roda mereka bisa berputar bahkan bertukar peran. Inilah gender nilai-nilai yang berada dibalik jenis kelamin manusia dan itu dibangun oleh kondisi sosial sekitar, dari sinilah pula lahirlah maskulin dan feminism.

Saat seorang penulis menulis, saat seorang penulis berbagai ide lewat tulisannya. Khususnya yang berkaitan dengan wanita, kadang tulisan tersebut sarat bermuatan gender. Hal inilah yang saya rasakan pada kumpulan cerpen  “suami sempurna” karya Almarhum Nurul F Huda. Pada beberapa cerita yang ada pada cerpen ini khususnya yang berkaitan dengan kewanitaan, dalam konteks sosial, penulis mencoba berontak, dengan menawarkan ide yang ingin penulis sampaikan lewat cerita tersebut mengenai kondisi yang penulis harapkan atas kondisi yang tengah terjadi kini, terutama pada para wanita. Mengingat bahwa gender ini bisa sewaktu-waktu berubah, maka dari tulisan itulah penulis memulai langkahnya untuk merekontruksi ulang nilai-nilai gender yang tengah terjadi kini dengan harapan kelak kondisi wanita lebih baik. hal ini bukan berarti kondisi sekarang buruk, inilah waktu, sewaktu-waktu, waktu terasa baik, tapi waktu berikutnya waktu menenggelamkan, waktu tak berpihak, ia hanya berputar, sesuai fitrahnya. Mempergilirkan kondisi tentang waktu.


Ingat ubah satu hal-mengubah banyak hal.

27 February 2013

ALUR PENDAFTARAN KULIAH KEPENULISAN

1. PENDAFTARAN VIA ONLINE
___a. Mengisi formulir yang dapat diunduh di www.flpbandung.blogspot.com
___b. Mentransfer investasi kuliah sebesar Rp.250.000 (atau cicilannya min. Rp. 100.000) ke no.rekening 0021149861100 (Bank BJB) a/n Imas Saripah
___c. Mengirim formulir ke kk.flp.bandung@gmail.com beserta bukti transfer
___d. Konfirmasi pendaftaran ke 083821299555 dengan format
________DAFTAR KK_NAMA LENGKAP_TANGGAL TRANSFER

2. PENDAFTARAN ON THE SPOT
___a. Mengisi formulir yang dapat diunduh di www.flpbandung.blogspot.com
___b. Menyerahkan formulir beserta investasi kuliah sebesar Rp.250.000 (atau cicilannya) ke kamisan FLP Bandung setiap hari kamis jam 16.00 di slasar Masjid Salman ITB
___c. Konfirmasi pendaftaran ke 083821299555 dengan format
________DAFTAR KK_NAMA LENGKAP_Tempat Pembayaran,

INFO LEBIH LANJUT!!

like fans page FB (FLP Bandung) : https://www.facebook.com/FlpBandungOKE
join group FB (FLP Bandung) : https://www.facebook.com/groups/flpbandung
follow twitter @flpbandungOK : https://www.twitter.com/FLPBandungOK

untuk informasi dan konformasi pendaftaran, silakan hub CP:
083821299555 (Silvia F. Jasmine
085649513484 (Vina)
PIN BB : 32267A7 Aufa Arham

31 December 2010

Dinamika dan Restrukturisasi Pengurus FLP Bandung



Tiga semester sudah kepengurusan ini berjalan. Tiga semester yang penuh dinamika. Dinamika yang selalu memberi tiga pilihan: hadapi dengan tegar, mundur teratur lalu kabur, atau menonton sambil berkomentar.

Nyatanya, memang tidak ada komunitas yang tidak berjumpa dengan dinamika. Komunitas tanpa dinamika itu seperti jagoan tanpa musuh pada film laga. Apa serunya? Meski terlalu sering menghadapi dinamika juga membuat komunitas sulit menjalankan program dan mengembangkan kreativitas.

Alhamdulillah, selama tiga semester ini saya ditemani rekan-rekan pengurus yang solid, anggota yang kompak, dan senior yang memberi perhatian dengan caranya masing-masing. Tanpa dukungan yang luar biasa itu, mungkin saya sudah mengangkat handuk putih sejak tiga bulan pertama diamanahi jadi ketua. 


Banyak hal terjadi di internal FLP Bandung selama tiga semester ini. Sebutlah misalnya bertambah dan berkurangnya jumlah anggota, diskusi-diskusi hangat yang mendewasakan, sampai dengan bertambah dan beralihnya aktivitas pengurus. Untuk yang

24 December 2010

Memoar Kamis, 30 September 2010, "Karakteristik Penerbit"

Seperti Kamis sore-Kamis sore sebelumnya, lepas Ashar 30 September 2010 itu juga anggota FLP Bandung ngariung di selasar timur Masjid Salman. Di Kamisan* itu, kami berbincang tentang karakteristik penerbit. Belum tepat pukul empat, Bang Aswi yang didaulat jadi pembicara telah datang, siap berbagi seputar dunia penerbitan.

Bang Aswi kemudian mulai bercerita tentang seluk-beluk penerbitan. Menurut lelaki penggila olah raga yang menggemari dunia kepenulisan itu, salah satu hal yang harus diperhatikan oleh mereka yang ingin menerbitkan buku adalah memperhatikan cara merangkai paragraf. Kemaslah paragraf agar cantik dan menarik, perhatikan awal dan akhirnya. Setelah itu semua, agar tulisan kita tampak lebih menarik, bolehlah kita tambahkan ilustrasi.

Lalu, apa proses yang dialami sebuah naskah ketika sudah masuk ke penerbit? Awalnya, naskah yang masuk

19 November 2010

Catatan Kamisan 28 Oktober 2010

Kamisan senja itu nampak ramai di Selasar Saman. Beberapa orang datang dan merasa perlu mendapatkan materi mengenai Sejarah Sastra Indonesia yang dipaparkan oleh Nadzilla, lulusan Sastra Indonesia UNPAD.


Pembicaraan diawali dengan pemaparan bahwa HB. Yassin membagi periodisasi sastra ada tiga, yaitu sastra lama, sastra peralihan dan sastra baru. Hal yang membuatnya ingin memperiodesasikan sastra adalah karena persamaan jiwa, persamaan kepentingan, persamaan ciri dan persamaan ide untuk dituliskan. HB Yassin hanya memperiodesasikan sampai tahun 1966. Berikut petikannya:

10 November 2010

KMS dan Kamisan FLP Bandung (11 November 2010)


Komunitas Menggagas Solidaritas

Bencana datang lagi, porak-poranda lagi negeri kita. Korban jiwa berjatuhan, kerugian materi terus membayang, dan kesedihan tidak terperikan. Mungkin bencana puncaknya telah lewat, mungkin juga masih akan berlangsung, tapi terlepas dari itu semua, setiap bencana pastilah menjatuhkan korban yang harus ditolong. Kesemuanya itu memberi satu kesimpulan: kita harus menunjukkan solidaritas kita.

Ahad pekan pertama November di Gunung Geulis, silaturahim FLP Jawa Barat sedang berlangsung. Di antara banyaknya gagasan yang mengemuka, tercetuslah ide untuk merespons bencana yang melanda negeri ini. Maka sepakatlah kami untuk mengaktifkan (kembali) kantung-kantung donasi untuk solidaritas terhadap saudara-saudara yang ditimpa bencana.

Terakhir kali, kantung donasi ini diaktifkan pada “Gerakan Sebait Cinta untuk Palestina” (hasil scan pemberian bantuan: http://flpbandung.blogspot.com/2010/11/mer-c-terima-kasih-gerakan-sebait-cinta.html).

17 August 2010

Pelatihan Menulis Gratis ^_^



Menulis merupakan kegiatan yang gampang-gampang susah. Gampang karena kita bisa memulainya dari hal-hal yang disukai, tokoh yang dikagumi, kejadian yang dialami, atau keilmuan yang dikuasai. Tapi juga kadang terasa sulit, karena kurang inspirasi, tidak termotivasi, atau tidak menguasai teknik menulis. Ditambah lagi, kurangnya informasi tentang cara menerbitkan karya.

Nah, dalam rangka saling semangat-menyemangati dalam menulis dan berbagi wawasan seputar dunia penerbitan, FLP Bandung bersama Salam Book House mengadakan pelatihan menulis cerpen, cerita anak, dan penerbitan. Berikut jadwal, materi, pembicara, dan cara daftarnya:

01 July 2010

Kamisan FLP Bandung (Juli 2010)

Banyak penulis baru yang muncul, tapi tak sedikit yang tak bisa bertahan. Mereka pernah muncul ke permukaan, tapi tak lama kemudian tenggelam oleh waktu. Sementara itu, ada penulis-penulis yang namanya tetap diingat masyarakat, karya-karyanya tinggal di hati pembacanya dalam waktu yang lama. Kenapa bisa begitu?

Ada banyak sebab, tapi salah satu yang tidak bisa dipungkiri adalah karena karya mereka punya karakter. “Karakteristik Para Penulis”, itulah yang diangkat pada Kamisan FLP Bandung di Juli ini. Iqbal dengan puisinya, Rahmat Abdullah dengan esainya, Helvy dengan cerpennya. Kamisan bulan Juli ini akan berbincang tentang karakteristik karya-karya mereka. Perlu juga kiranya kita menengok penyair jaman Rasul, Thufail bin Amr. Serta apa kiranya kiat menulis kreatif agar karya bisa berkarakter.

Inilah jadwal Kamisan FLP Bandung Bulan Juli selengkapnya:

07 June 2010

Laporan Kegiatan "Sebait Cinta untuk Palestina"



Terhadap penyerangan kapal bantuan kemanusiaan dan penjajahan yang dilakukan oleh Israel, banyak sudah pihak-pihak yang menyatakan solidaritas untuk Palestina. Di berbagai belahan dunia, orang-orang berkumpul menyatakan dukungan kepada Palestina. Begitu juga dengan FLP Bandung, ada keinginan mengajak berbagai pihak untuk menyatakan kepedulian kepada Palestina. Ada keinginan untuk berkontribusi dalam solidaritas, meski sekecil apapun.
Maka tercetuslah ide tentang “Sebait Cinta untuk Palestina”. Sebuah gerakan solidaritas untuk menunjukkan kepedulian terhadap nilai kemanusiaan yang kini dicederai. Sebuah usaha untuk menunjukkan cinta kepada saudara-saudara kita, meski hanya melalui “sebait cinta”.
Berikut ini laporan kegiatan yang telah dilakukan (termasuk ketika ide ini berkembang menjadi “Gerakan Sebait Cinta untuk Palestina”. Sebuah gerakan bersama antara FLP Bandung, FSLDK Bandung Raya, BEM Bandung Raya, PSR, dan KAMMI Daerah Bandung):
1.       Aksi Nyata di Dunia Maya
Sejak Rabu, 2 Juni 2010, saat ide tentang “Sebait Cinta untuk Palestina” disosialisasikan, sejak itu juga kami secara resmi mengajak semua pihak untuk menunjukkan solidaritas kepada rakyat Palestina.
Kegiatan ini dilakukan dengan membuat karya (puisi, cerpen, atau esai) yang menunjukkan solidaritas. Aksi ini juga dilakukan dengan meng-update status situs jejaring sosial yang dimiliki.

2.        Kamisan FLP Bandung Bertajuk “Palestina dalam Puisi”
Pada Kamis, 3 Juni 2010, jam 16.00-18.00, hadir M. Irfan Hidayatullah sebagai pembicara. Acara yang

Laporan Penggalangan Dana "Sebait Cinta untuk Palestina"



Terima kasih atas dukungan dan doa sahabat-sahabat semuanya, semoga Allah membalasnya dengan kenikmatan yang besar. Alhamdulillah, saat ini (7 Juni 2010) telah terkumpul dana solidaritas untuk Palestina sebesar Rp. 4.950.000 (empat juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah).
Rinciannya adalah sebagai berikut:

Ajakan Peduli Palestina


“GERAKAN SEBAIT CINTA UNTUK PALESTINA”
                Daftar panjang pelecehan hak-hak kemanusiaan dilakukan oleh Israel terus bertambah. Peristiwa Shabra-Shatila, penghancuran fasilitas umum di Palestina, perampasan hak hak warga sipil, dan banyak lagi. Terakhir, tentara Israel melakukan penyerangan kepada kapal yang mengangkut bantuan internasional untuk rakyat Palestina.
                Sebab kita manusia, maka kita punya cinta. Sebab kita punya cinta, maka kita menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Sebab nilai kemanusiaan itu kini dicederai, maka kita harus menunjukan solidaritas kita, kepedulian kita, betapapun kecilnya. Ya, sebab kita punya cinta, maka biarlah cinta itu menjelma menjadi aksi nyata.
                “Sebait Cinta Untuk Palestina” adalah ide tentang gerakan bersama untuk memberi dukungan kepada bangsa Palestina. “Sebait Cinta Untuk Palestina” adalah gerakan solidaritas untuk menunjukan kepedulian kita kepada nilai nilai kemanusiaan. “Sebait Cinta Untuk Palestina” adalah usaha kita untuk menunjukan cinta kepada saudara sudara kita.
                Mari, mari, mari, bergabung dalam gerakan ini. “Gerakan Sebait Cinta Untuk Palestina”. Apa yang bisa kita lakukan?
1.       Aksi Nyata di Dunia Maya

02 June 2010

Sebait Cinta untuk Palestina


Sebait Cinta untuk Palestina


Daftar panjang pelecehan hak-hak kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel terus bertambah. Peristiwa Shabra-Shatila, penghancuran fasilitas umum di Palestina, perampasan hak-hak warga sipil, dan banyak lagi. Terakhir, tentara Israel melakukan penyerangan biadab terhadap kapal yang mengangkut bantuan internasional untuk rakyat Palestina.

Sebab kita manusia, maka kita punya cinta. Sebab kita punya cinta, maka kita menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Sebab nilai kemanusiaan itu kini dicederai, maka kita harus menunjukkan solidaritas kita, kepedulian kita, betapapun kecilnya. Ya, sebab kita punya cinta, maka biarlah cinta itu menjelma menjadi aksi nyata.

“Sebait cinta untuk Palestina”, adalah ide tentang gerakan bersama untuk memberi dukungan kepada Bangsa Palestina. “Sebait Cinta untuk Palestina” adalah gerakan solidaritas untuk menunjukkan kepedulian kita kepada nilai-nilai kemanusiaan.  “Sebait Cinta untuk Palestina”, adalah usaha kita untuk menunjukkan cinta kepada saudara-saudara kita.

Mari, mari, mari bergabung dalam gerakan ini. Gerakan “Sebait Cinta untuk Palestina”...
Berikut adalah rangkaian kegiatannya: