20 September 2012

WORKSHOP KEPENULISAN FMI - FLP BANDUNG


Segala puji bagi Allah Rabbil Alamin, Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada baginda Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya serta pengikutnya yang tetap istiqamah dalam barisan perjuangan islam hingga akhir zaman.

Muslimah sebagai populasi muslim tertinggi di dunia, dan sebagai peran serta muslimah Indonesia, perlu wadah aktualisasi dan apresiasi di dalamnya. Dwi Cahaya Organizer bekerja sama dengan FLP Bandung mengadakan “Workshop Kepenulisan The Power of Muslimah” yang nantinya akan diikutsertakan dalam event lomba menulis Muslimah. Acara Insya Allah akan dilaksanakan pada :

hari/ tanggal : Ahad, 7 Oktober 2012
pukul : 09.00-15.00 WIB
tempat : di Aula Hotel Dinar jalan Pelajar Pejuang '45 No. 25


Adapun rangkaian acaranya yakni
Sesi I : Teknik Menulis Cerpen oleh Topik Mulyana.
Sesi II: Teknik Menuis Esai oleh M. Irfan Hidayatullah

Melalui media ini, kami, selaku panitia Workshop Kepenulisan FMI, bermaksud mengundang Saudari Muslimah untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini. Atas perhatian dan bantuan Saudari, kami ucapkan terima kasih.

Untuk diperhatikan:
Bagi para muslimah yang ingin mengikuti workshop kepenulisan wajib mengisi formulir dan mengirimkannya ke writingcontestfmi@gmail.com.

Untuk formulir pendaftaran dapat diunduh di sini
Informasi lebih lengkap dapat 083821299555.

06 August 2012

TENTANG KAU, AKU, DAN SEPUCUK ANGPAU MERAH - TERE LIYE


TENTANG KAU, AKU, DAN SEPUCUK ANGPAU MERAH - TERE LIYE
Sri Al Hidayati

KISAH bermula dari pencarian jati diri Borno, 22 tahun, bujang dengan hati paling lurus di sepanjang tepian Kapuas. Sesudah lulus SMA memutuskan bekerja. Sebulan lulus SMA, ia sibuk melamar pekerjaan. Pabrik pengelolaan karet di tepian Kapuas menerimanya.

Kalian pernah datang ke pengelolaan karet? Pekerjaan di sana sebenarnya mudah, bal-bal karet hasil sadapan petani bercampur cuka dikirim ke pabrik lewat perahu-perahu. Jauh sekali perahu kayu berhiliran dari kebun penduduk di hulu Kapuas. Lantas mesin pabrik akan mengolahnya menjadi lembaran tipis belasan meter. Lembaran itu dikeringkan menjuntai dari atap gudang tinggi-tinggi bagai menjemur kain selendang, diangin-anginkan. Setelah kering, lembaran karet dimasukkan ke dalam kontainer, diangkut truk besar, dibawa ke pelabuhan, menuju pabrik berikutnya.

Bau, itulah hal paling memberatkan bekerja di pabrik karet. Hasil sadapan bercampur cukanya saja sudah bau, apalagi setelah diolah, lebih bau. Radius ratusan meter sudah menyengat, dan aku sialnya persis berada di hadapannya. Masker kain tiga lapis tidak mempan, partikel bau itu menusuk membuat tersengal. Maka seragam oranye itu tidak ada gagah-gagahnya lagi ketika aku pulang. (halaman 20-21)

Kemudian setelah 6 bulan Borno bekerja, ia terkena PHK. Kemudian Borno mencari pekerjaan lagi. Atas keberuntungan menjawab pertanyaan—memecahkan masalah bau cipratan air karet, ia bekerja kemudian di dermaga Feri. “Pakai daun singkong, Pak. Daunnya diremukkan, lantas dipakai untuk mencuci tangan yang terkena cipratan air karet.”

Di atas kebahagiaannya telah bekerja di tempat baru, ia menjadi sasaran amukan Bang Togar. Bahkan selebaran dipampang di sudut-sudut kampung ditambah wajah Borno untuk tidak mengangkut Borno dalam sepit Togar dan kawan-kawan saat akan berangkat bekerja. Borno kecewa.

Aku harus segera memilih, berhenti bekerja dari pelampung itu atau, cepat atau lambat, seluruh penghuni gang sempit memusuhiku. (halaman 39)

Borno teringat dengan wasiat Bapak. “‘Borno, jangan pernah jadi pengemudi sepit.” Pak Tua kemudian memberi nasihat kepada Borno, “Jamak itu Borno. Lazim sekali seorang petani bilang ke anaknya, ‘Nak, jangan jadi petani, tidak bisa kaya.’ Seorang guru SD bilang ke anaknya, ‘Nak, jangan jadi guru, hidupnya susah, makan hati pula.’ Seorang kuli kasar bilang ke anaknya, ‘Nak, jangan pernah jadi kuli, keringat diperas, gaji tak memadai.’ Tetapi maksud mereka tidaklah demikian. Hakikat sejati pesan itu adalah agar kau jadi lebih baik....”(halaman 53)

Saat Borno sudah berhenti dari pekerjaannya, memutuskan menjadi pengemudi sepit, ia harus berhadapan dengan Bang Togar, ketua PPSKT dan ia mengalami masa orientasi berlebihan. Ia menghabiskan seminggu tiga kali sehari untuk membersihkan jamban di dermaga sepit, sebelum akhirnya berlatih mengemudi sepit. Borno termasuk anak yang pintar karena beberapa kali berlatih mengemudi sepit, ia mampu lihai.

Ia sempat kebingungan menjadi pengemudi sepit tapi tak punya sepit. Tapi untunglah Pak Tua rela meminjamkan sepit pada Borno asal setor karena meminjam sepit Pak Tua.

Di hari pertama membawa Sepit, Borno menjadi olok-olok Bang Togar atas kemampuannya, karena itu jadi saat perdananya membawa sepit. Sebenarnya penumpang sudah penuh di sepit, namun karena penjelasan Bang Togar, mereka ikut merasa khawatir dan turun dari sepit. Sampai akhirnya petugas timer meminta mereka naik lagi. Sepit berangkat dan sampai seberang dengan baik.

Tak disangka Bang Togar secara mengejutkan memberikan sepit (hasil urunan warga kampung) kepada Borno. Ternyata masa orientasinya berakhir. Borno merasa terharu. Sampai Borno dilemparkan ke permukaan Kapuas. Sepit Borno dinamakan Sepit Borneo.

Kemudian petugas timer memberitahu Borno kalau ada barang tertinggal di sepit yang pertama ia kemudikan. Borno melihat Angpau Merah. Setelah itu Borno menjaga surat itu, meski Andi, sahabat Borno penasaran ingin membukanya. Borno melarangnya. Borno berusaha mati-matian mencari gadis berbaju kuning yang terlihat seperti orang Cina saat menaiki sepitnya tadi, Borno berkesimpulan barang itu milik gadis itu. Sampai uang habis untuk membayar solar. Semua berubah saat Jupri bertanya padanya, “Apakah kau sudah dapat Angpau?”

Borno diam. Setelah Borno jauh mencari ternyata ada disini—mungkin seperti itu pikirnya, Di pojok dermaga, gadis itu tersenyum manis membagikan amplop yang sama pada pengemudi sepit dan pedagang di sekitar dermaga.

Dua hari terakhir aku keliru menebak. Ternyata amplop merah itu tidak penting. Aku menghela nafas panjang, balik kanan, hendak melangkah gontai menuju sepit, menunggu antrean.
“Abang mau terima angpau juga?” suara merdu itu menyapa.
Aku menoleh. “Eh? Kau memanggilku?” (halaman 95)

Mulailah Borno berpikir: gadis itu harus naik sepitku saat hendak menyeberang. Dari mulai terlalu cepat datang, selisih satu penumpang, sampai akhirnya ia menemukan jam yang tepat bila ia ingin gadis itu menaiki sepit Borno, yaitu di sepit urutan tiga belas, pukul 7.15.

Borno juga berusaha ingin mengobrol dengan gadis itu sampai sengaja melambat-lambatkan sepit saat di jalan. Dan gadis itu pun merasa aneh karena akhirnya selalu naik sepit Bang Borno, begitu panggilannya. Borno pun tahu akhirnya nama gadis itu Mei, yang sedang PPL mengajar di Pontianak.

Borno dan Mei menjadi teman yang baik, dan suatu saat Mei tidak datang saat Borno akan pergi mengantarnya ke Istana Kadariah. Kabarnya ia pulang ke Surabaya. Akhirnya kebiasaan Borno banyak berubah yang asalnya selalu mengantri di sepit nomor tiga belas, ia pun mengisi waktu lagi dengan belajar jadi montir di bengkel ayahnya Andi. Bakat Borno terhadap mesin membuat ayah Andi tertarik.

Cerita berlanjut dengan kepergian Pak Tua dan Borno ke Surabaya untuk menemani Pak Tua melakukan terapi di Surabaya. Perjuangan mencari Mei dengan menelepon dari buku telepon dan ternyata setelah dua hari berjuang, Mei di hadapannya dan mereka bertiga berkeliling Surabaya. Sempat bertemu Fulan Fulani, sahabat lama Pak Tua, pasangan buta yang hidup bahagia dan membuat haru Borno, begitupula Mei.
*

Membaca kisah Borno dan Mei, “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah” (Gramedia, 2012) mengisahkan pengorbanan, percintaan dan keluarga. Sudut pandang novel ini ialah sudut pertama Borno. Suspens-suspen yang ada berkaitan dengan tokoh satu dengan yang lain. Alur maju mundur dimainkan secara menarik.

Semua kisah “Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah” berawal dari sini :
Umurku dua belas, duduk di lorong rumah sakit menangis sendirian terisak. Di ruangan berjarak sepuluh meter dariku, Bapak memutuskan menunaikan kebaikan terakhir. Aku selalu tahu—sebagaimana seluruh penduduk tepian Kapuas tahu—Bapak adalah orang baik yang pernah kukenal. Aku tidak tahu apakah ubur-ubur yang membuatnya meninggal atau pisau bedah dokter. (halaman 16)

Saat usia Borno 12 tahun, Borno harus kehilangan Bapak, karena Bapaknya telah mendonorkan jantungnya pada Ayah Sarah. Sarah kemudian diceritakan di dalam novel adalah seorang dokter gigi muda seusia Borno, tipikal perempuan yang cantik. Saat Andi sakit gigi, Pak Tua dan Borno menemani pergi ke dokter gigi. Akhirnya Sarah ingat dengan Pak Tua, teringat juga dengan Borno saat di lorong rumah sakit. Sarah sangat senang bertemu dengan Borno. Lama Sarah berusaha mencari dan tidak bertemu ujungnya, karena pihak keluarga Bapak Borno tidak mau diketahui yang telah menolong.

“Kau ingat, Abang, dini hari itu kau justru hendak mengusirku. Aku ingat sekali wajah kau, wajah sedih, tidak mengerti apa yang telah dilakukan bapak kau. Tahukah Abang, dini hari itu aku bersumpah apa pun yang terjadi pada bapakku, aku akan mencari kau, anak dari seseorang yang telah meminjamkan kehidupan pada bapakku. Ya Tuhan, setelah lama mencari.” (halaman 317).

Sarah kemudian mengundang Borno sekeluarga makan malam bersama. Selanjutnya pula Sarah dan keluarga besar datang ke rumah Ibu Borno. Ibu Sarah memeluk Borno dan berkata,
“Kau tahu, Nak,” wanita itu menyeka pipi, berlinang air mata,” suamiku bukan hanya menyaksikan anak-anak kami menikah, berkeluarga, melihat cucu-cucunya. Suamiku bahkan sempat menyaksikan Sarah menjadi dokter. Itu sungguh kebahagiaan terbesarnya. Terima kasih, Nak. Sungguh terima kasih”. (halaman 330)

Ternyata Mei pula berkaitan dalam hal ini. Mama Mei adalah dokter yang telah melakukan pendonoran jantung. Mama Mei sudah berbulan-bulan sakit karena memikirkan masa lalunya karena sudah menghabiskan usia seorang Bapak yang masih bisa diusahakannya (Mei baru tahu dari buku harian mamanya).

Mei merasa bersalah, alasan utama Mei menyengaja dari Surabaya pergi ke Kalimantan untuk melihat Borno, dan angpau yang ditinggalkan kali pertama saat Borno mengemudi sepit, ternyata bukanlah angpau biasa. Itu adalah surat dan baru dibaca Borno pada saat Mei pergi hampir setahun dari Surabaya. (Selengkapnya di halaman 499-502).

Setelah hampir setahun, Borno tahu dari Bibi Mei kalau Mei sudah hampir tiga bulan jatuh sakit. Ia kemudian berangkat ke Surabaya. Perasaan Borno tidak berubah saat tahu Mama Mei dahulu yang membuat tangis Borno di lorong begitu keras. 6 bulan kemudian Borno  berkuliah dan bisnis Borno telah maju di jalan Sudirman, jalan paling besar di Pontianak. [ ]
Bandung, 5 Agustus 2012


 [SEKILAS]     T E R E   L I Y E

Tere-liye lahir di Palembang, 21 Mei 1979, lelaki bernama Bang Darwis, yang beristrikan Riski Amelia, adalah seorang ayah dari Abdullah Pasai. Lahir dan besar di pedalaman Sumatera, berasal dari keluarga petani, anak keenam dari tujuh bersaudara. Berlatar pendidikan di Fakultas Ekonomi UI.

Karya-karyanya:
1. Kisah Sang Penandai
2. Ayahku (Bukan) Pembohong
3. ELIANA, Serial Anak-anak Mamak
4. Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin
5. PUKAT, Serial Anak-anak Mamak
6. BURLIAN, Serial Anak Mamak
7. Hafalan Shalat Delisa
8. Moga Bunda Disayang Allah
9. Bidadari-bidadari Surga
10. Rembulan Tenggelam di Wajahmu
11. Senja Bersama Rosie
12. Mimpi-mimpi si Patah Hati
13. Cintaku Antara Jakarta & Kualalumpur
14. The Gogons Series 1
15. Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah


"Tere Liye" merupakan nama pena dari seorang novelis yang diambil dari bahasa India dengan arti : untukmu, untuk-Mu. Awal tahun 2012, ditayangkan serial TV (15 episode) bertajuk "Serial Anak Kaki Gunung" yang diangkat dari Serial Anak-anak Mamak karya Darwis Tere-Liye, dari tetralogi tiga buah, yaitu: Burlian, Pukat, Eliana. Sedangkan novel "Amelia" rencananya baru akan terbit akhir tahun ini. Serial TV ini digarap oleh Bang Dedi Mizwar, salah satu sineas idealis Indonesia.

Novelnya ini mengangkat dunia anak-anak yang mengangkat standard moralitas, kebaikan, kasih sayang keluarga, kesederhanaan yang dibungkus dengan kepolosan, dan keterbatasan anak-anak. Buku-buku ini tentang anak-anak Mamak yang tinggal di kampung pedalaman.

Setelah Burlian si anak spesial yang bercita-cita melihat dunia dengan kapal-kapal besar, dilanjutkan dengan Pukat si anak pintar, yang ingin menjadi peneliti dan menemukan harta karun terbesar kampungnya, kini dilanjutkan dengan Eliana, si anak sulung yang pemberani dan tidak bisa tinggal duduk diam melihat ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan yang terjadi di depan matanya.

Di buku keempat ini, tidak hanya menceritakan tentang aksi Eliana bersama teman-temannya yang tidak bisa tinggal diam melihat kampung mereka diporak-porandakan penambang pasir rakus dari kota, mengeruk pasir di delta sungai kampung mereka tanpa mempedulikan dampak yang ditimbulkannya, tapi juga menceritakan Eliana sebagai anak sulung mamak dengan segala tanggung jawab terhadap ketiga adiknya serta konflik-konflik dengan teman-teman di sekolahnya. [Sri Al ]

24 May 2012

KULWIT KAMISAN FLP "MEMBACA SITTI NURBAYA"




  1. simak ulasan kamisan 17 mei 2012: "Membaca Sitti Nurbaya" oleh @nugrahawildan di sini yaa --> #kamisanFLP
  2. sitti nurbaya menjadi ikon sebuah zaman yg jstru mrupakn hal yg diam2 ingin dlawan: soal prjodohan yg dpaksakan. #kamisanFLP
  3. novel ini mengandung plot yg terjaga, konflik yg melodramatis, suspens dan lompatan2 kisah yg mmbuat penasaran #kamisanFLP
  4. mimikri adalah peniruan, tapi bukan berarti plburan -bhkn acpkali pnruan tsb diikuti smgt mngejek pd sbjek yg ditiru(Homi Babha) #kamisanFLP
  5. novel ini dterbitkan balai pustaka th 1922. secara sosiologis, pgrangnya mghdapi potensi sensor yg ketat.... #kamisanFLP
  6. penutup kamisan dari k' @nugrahawildan sore itu: "Karya sastra, dlm ttaran ideal, tdk lepas dari unsur sebuah bangsa" #kamisanFLP
  7. dmikian kultwit kamisan FLP Bandung edisi 17 Mei 2012 tggu kultwit #kamisanFLP selanjutnya!

28 March 2012

WRITING Competition (KREASI AKBAR FLP BANDUNG)

WRITING Competition
KREASI AKBAR FLP BANDUNG

Persyaratan Kompetisi Umum
  1. Peserta adalah pelajar, mahasiswa, umum.
  2. Peserta boleh mengikuti tiga kategori lomba.
  3. Peserta hanya dapat mengirimkan satu naskah untuk satu kategori lomba.
  4. Naskah ditulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan huruf Times New Roman font 12, spasi 1,5; A4; margin 3.
  5. Naskah merupakan hasil karya orisinal, belum pernah dipublikasikan di media manapun & tidak sedang digunakan untuk kegiatan kompetisi sejenis lainnya.
  6. Naskah tidak mengandung unsur SARA, pornografi maupun hal-hal yang bertentangan dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku.
  7. Mencantumkan biodata singkat di lembar terpisah.
  8. Memposting info lomba dengan men-tags 25 teman FB dan fb Lomba Menulis Kreasi Akbar.
  9. Peserta dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 10.000/ naskah dapat dibayarkan pada nomor rekening 135-401-00093-8536 atas nama Ami Nurmala. Bank BRI cab.Cibiru. Atau registrasi langsung pada panitia.
  10. Naskah dikirim melalui e-mail kreasiakbar_lomba@yahoo.com ( file attachment ) bukan di badan pesan dengan melampirkan bukti identitas ( kartu pelajar/ mahasiswa, SIM/ KTP) dan bukti transfer yang telah di scan ( bagi yang membayar melalui rekening).
  11. Subjek Pengiriman Email: ESAI/PUISI/CERPEN-NAMA PENULIS-JUDULTULISAN. Tema: Sastra Memotret Kehidupan (Esai), Bebas (Cerpen),Indonesia (Puisi).
  12. Panjang Halaman : 4-7 halaman, (Esai), 4-6 Halaman (Cerpen), 1 Hal (puisi).
  13. Menyertakan sumber-sumber data&kutipan (Esai)

Deadline Tulisan
22 April 2012 Pukul 23.59 WIB
Update Peserta Lomba Menulis Kreasi Akbar
Setiap Senin Mulai 2 April 2012
PENGUMUMAN PEMENANG
AHAD, 29 APRIL 2012
(Saat Acara Kreasi Akbar)

HADIAH LOMBA
- Juara 1 Paket Hadiah Senilai Rp. 300.000 + Sertifikat
- Juara 2 Paket Hadiah Senilai Rp. 200.000 + Sertifikat
- Juara 3 Paket Hadiah Senilai Rp. 100.000 + Sertifikat

Informasi
Vina 085 649 513 484
Greeny 0856 5927 5411
Fb Lomba Menulis Akbar
Twitter @lombaAKBAR
Blog http://flpbandung.blogspot.com/

13 January 2012

Bincang Buku BELENGGU karya Armijn Pane.

Bincang Buku BELENGGU karya Armijn Pane.

Diskusi kamisan FLP Bandung 22 Desember 2011, mengangkat novel tahun 45, yakni Belenggu. Sebelum agenda kamisan, membaca buku Belenggu tersebut dan dibahas banyak oleh Nurul Maria Sisilia, Irez dan T’Dewi.

Cerita besar dalam novel ini yakni mengenai perselingkuhan. Pada zamannya—terbit pada angkatan 45, tentu menjadi hal yang tabu dan aneh mengangkat tema perselingkuhan. Tokoh dalam novel Belenggu yakni ada Tono, Tini dan Yah.

Dalam psiko analisis (kajian kejiwaan tokoh-tokoh dalam cerita), Tono adalah sosok yang sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter, kritis dan filosofis. Mengangkat hal feminisme (kesetaraan gender dengan laki-laki), Nampak dalam tokoh Tini yang sibuk dengan komite perempuan yang diikutinya, dan merasa bahwa perempuan tidak sepantasnya terkungkung hanya di rumah.

Sedangkan Yah seorang pelacur dan teman kecil Tono. Saat Tini penasaran ingin bertemu dengan Yah, lalu Tini menjadi berbenah diri. Mungkin ia bukan istri yang baik. Ia seakan melupakan kewajibannya sebagai seorang istri. Alhasil ia pergi. Meski sempat dilarang, namun ia pergi juga.

Yah pun begitu, ia pun pergi. Meski sebenarnya Tini sudah meridhoi hubungan Tono dan Yah. Pada akhirnya Tono menekuni pekerjaannya sebagai dokter.

Dalam novel ini, hal seperti religiusitas tidak dibahas sedikit pun, padahal Hamka menulis Dalam Lindungan Ka’bah pada sebelum zaman 45. Dalam novel ini, hal seperti budaya atau setting juga tidak dibahas. Setting terlihat jelas dengan sebutan “Di sebuah kota besar” saja, bisa jadi Jakarta. Berbeda dengan novel Ronggeng Dukuh Paruk dalam mengungkap setting yang sangat kuat lokalitasnya.
Makna yang bersayap ada pada ending yang menggantung. Sebagian besar kawan dalam diskusi kamisan FLP Bandung menangkap bahwa Yah menjadi gila. (Sri Al)