09 October 2012

Lomba Menulis Cerpen & Esai FMI

Salah satu acara dalam Festival Muslimah Indonesia (FMI) adalah lomba menulis (Writing Competition). Lomba ini kami adakan bekerjasama dengan FLP Bandung. Semoga event ini mampu menjadi ajang aktulisasi Muslimah Indonesia untuk berprestasi dibidang kepenulisan sehingga Indonesia akan memiliki lebih banyak lagi penulis Muslimah yang berpengaruh positif dengan karyanya.
Berikut merupakan informasi & persyaratan lomba menulis :

LOMBA MENULIS CERPEN & ESAI

Syarat-Syarat Lomba:
1. Lomba khusus untuk Muslimah
2. Tema Lomba Cerpen : The Power of Muslimah
3. Tema Lomba Esai :
  • My First Hijab
  • Transformasi Hijab Masa Kini
  • Muslimah di Mata Dunia
  • Muslimah Cantik, Cerdas dan Sholehah
4. Judul bebas, tetapi mengacu pada Butir 2 & 3.
5. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang benar, indah (literer) dan komunikatif serta bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasikan.
6. Naskah diketik dengan font 12, huruf Times New Roman, spasi 1,5, margin 3 cm di kertas A4 dengan panjang naskah 3-6 halaman (Cerpen)
7. Naskah tidak mengandung unsur sara, pornografi maupun hal-hal yang bertentangan dengan hukum dan perundang-undangan.
8. Mencantumkan biodata singkat di lembar terpisah.
9. Naskah dikirim ke email; info@festivalmuslimah.com cc writingcontestfmi@gmail.com dengan subjek CERPEN-NAMA PENGARANG-(JUDUL CERPEN) dan subjek ESAI-NAMA PENGARANG-(JUDUL ESAI).
10. a. Naskah WAJIB dipublikasikan melalui note akun Facebook peserta dengan men-tag 25 orang kawan salah satunya akun panitia FMI; Facebook.Com/FestivalMuslimah
10.b Peserta diwajibkan me – like Fans Page Festival Muslimah Indonesia ; Facebook.Com/FestivalMuslimah dan Memfollow official twitter FMI; @MuslimahFest
11. Peserta wajib melampirkan teks dibawah ini pada akhir naskah di note Fb:
Writing Competition ini merupakan salah satu rangkaian acara dari Indonesia Muslimah Fest bekerjasama dengan FLP Bandung. Ikuti lomba & Audisi lainnya seperti Lomba Menyanyi, Model Muslimah, Rancang Hijab dengan Hadiah Utama Tour Eropa, Asia dan Umroh juga Hadiah Ratusan Juta lainnya. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:
web   
          : www.festivalmuslimah.com
Twitter    
 : @MuslimahFest
Fb                 : www.facebook.com/FestivalMuslimah
12.  Contact person         : 083821299555 (Silvia)
: 085659275411 (Greeny)
13. Naskah akan diambil tiga naskah terbaik dan juga 10 naskah favorit (jumlah like dan komen terbanyak di facebook).
14. Naskah dikirim paling lambat sampai 31 Oktober 2012.
15. Pengumuman pemenang akan dilaksanakan pada rangkaian acara Puncak Festival Muslimah Indonesia yang akan diselenggarakan di Sabuga ITB Pada tanggal 28 Januari- 2 Februari 2013.
HADIAH
Untuk Masing-Masing Juara Lomba Menulis Cerpen & Esai panitia telah menyediakan hadiah :
  1. Juara 1 : 1 Buah Unit Netbook + Paket Produk Sponsor
  2. Juara 2 : Uang Rp 1.500.000,- + Paket Produk Sponsor
  3. Juara 3 : Uang Rp 1.000.000,- + Paket Produk Sponsor
  4. 10 Pemenang Favorit Berhak Mendapatkan Paket Produk Sponsor (Pemenang ditentukan berdasarkan jumlah like, share & comment di FB)

[REVIEW] WORKSHOP KEPENULISAN FMI

Alhamdulillah sahabat FLP Bandung, kemarin (Ahad, 7 Oktober 2012) di Aula Hotel Dinar, jalan Pelajar Pejuang 45 No.25, berlangsung acara yang ditunggu-tunggu yakni  Workshop Festival Muslimah Indonesia berisi dua sesi materi yakni Pengenalan Cerpen dan Pengenalan Esai dihadiri oleh 80 peserta.


Pemateri pertama penulis buku “Melepas Dahaga dengan Cawan Tua” memberi judul diskusi dengan Hakikat, Jenis dan Struktur Fiksi dengan dimoderatori oleh Dimas Hadi. Peserta tidak hanya mendapat materi, tapi juga dapat menuliskan cerita dari cerita pendek yang disajikan pemateri sebelumnya. Setelah itu break dzuhur dan peserta mendapat konsumsi gratis.

Pemateri kedua, penulis novel “Sang Pemusar Gelombang” membahas esai dengan terlebih dahulu memberikan handout yakni tulisan Samuel Mulya berjudul “Faith”.



Saat materi diberikan, peserta yang memenuhi aula Hotel Dinar tampak segar oleh pilihan kata yang disajikan pemateri, sehingga materi esai dapat diterima dengan mudah. Akhirnya peserta belajar dari esai yang telah jadi, kemudian dibongkar struktur dan apapun yang ada di dalamnya. Sehingga peserta dapat menyimpulkan sendiri apa itu esai.

Mengapa tulisan “Faith” (Samuel Mulia) disebut Esai?
  • Tulisan yang dikemas dengan ringan, isi tulisannya belum tentu ringan
  • Bukan rekaan (fakta / opini)
  • Gaya bahasa to do point, dibandingkan dengan fiksi
  • Tulisan ringan yg penuh nilai
  • Tulisan yang menginspirasi
  • Tulisan dapat dibaca kapan saja

Struktur Esai
  • Latar belakang masalah – Ide
  • Menganalisis
  • Menuliskan ide atau pandangan umum
  • Kesimpulan


Esai (M. Irfan Hidayatullah)
  • Esai menurut pemateri di Workshop kepenulisan yakni cara mengungkapkan sesuatu dapat lebih mudah diterima
  • Tidak menggurui
  • Esai disebut celotehan, obrolan ringan, gerutuan, sahabat
  • Esai bukan karya ilmiah
Peserta pun diminta untuk menuliskan esai yang sedang ada di pikirannya. Tidak menyangka ada banyak ide-ide bermunculan dan banyak kejutan-kejutan akhirnya. Semoga tetap istiqamah untuk dapat menulis! Salam Pena! :)

03 October 2012

KULTWIT WORKSHOP KEPENULISAN FMI - FLP BANDUNG


  • Penting bagi Muslimah untuk action, berkarya demi umat. Salahsatunya menulis.
  • Hari ahad ini, akan ada workshop menulis gratis di Aula Hotel Dinar, jalan Pelajar Pejuang 45 No. 25 Bandung.
  • Acara mulai dari pukul 09.00-15.00. Utk selengkapnya bs lihat di blog flpbandung.blogspot.com
  • Meski gratis, ada formulir yg harus diisi oleh para muslimah :)
  • Dapatkan juga doorproze dari Zoya dan Laluna.
  • Acara ini merupakan rangkaian dari acara Festival Muslimah Indonesia yg puncaknya akan diadakan di Sabuga 30 Januari-5 Februari 2013.
  • Akan ada lomba cerpen dan esai yang bisa diikuti dan hadiahnya laptop.
  • Lomba ini terbuka juga untuk para ibu dan siswi SMA. Utk mahasiswi apalagi :D
  • Puncaknya pengumuman pemenang lomba akan diumumkan sabuga saat acara FMI berlangsung. :)
  • Sampai saat ini pendaftar acara Workshop Kepenulisan fmi ada 60 orang, masih ada kuota untuk 20 orang. Segera daftar ke 083821299555.
  • formulir acara workshop dapat diunduh di http://www.4shared.com/office/XrsA2-_q/formulir_pendaftaran_workshop_.html ..nanti kalau sudah diisi dikirim lagi ke writingcontestfmi@gmail.com :)

20 September 2012

WORKSHOP KEPENULISAN FMI - FLP BANDUNG


Segala puji bagi Allah Rabbil Alamin, Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada baginda Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya serta pengikutnya yang tetap istiqamah dalam barisan perjuangan islam hingga akhir zaman.

Muslimah sebagai populasi muslim tertinggi di dunia, dan sebagai peran serta muslimah Indonesia, perlu wadah aktualisasi dan apresiasi di dalamnya. Dwi Cahaya Organizer bekerja sama dengan FLP Bandung mengadakan “Workshop Kepenulisan The Power of Muslimah” yang nantinya akan diikutsertakan dalam event lomba menulis Muslimah. Acara Insya Allah akan dilaksanakan pada :

hari/ tanggal : Ahad, 7 Oktober 2012
pukul : 09.00-15.00 WIB
tempat : di Aula Hotel Dinar jalan Pelajar Pejuang '45 No. 25


Adapun rangkaian acaranya yakni
Sesi I : Teknik Menulis Cerpen oleh Topik Mulyana.
Sesi II: Teknik Menuis Esai oleh M. Irfan Hidayatullah

Melalui media ini, kami, selaku panitia Workshop Kepenulisan FMI, bermaksud mengundang Saudari Muslimah untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini. Atas perhatian dan bantuan Saudari, kami ucapkan terima kasih.

Untuk diperhatikan:
Bagi para muslimah yang ingin mengikuti workshop kepenulisan wajib mengisi formulir dan mengirimkannya ke writingcontestfmi@gmail.com.

Untuk formulir pendaftaran dapat diunduh di sini
Informasi lebih lengkap dapat 083821299555.

06 August 2012

TENTANG KAU, AKU, DAN SEPUCUK ANGPAU MERAH - TERE LIYE


TENTANG KAU, AKU, DAN SEPUCUK ANGPAU MERAH - TERE LIYE
Sri Al Hidayati

KISAH bermula dari pencarian jati diri Borno, 22 tahun, bujang dengan hati paling lurus di sepanjang tepian Kapuas. Sesudah lulus SMA memutuskan bekerja. Sebulan lulus SMA, ia sibuk melamar pekerjaan. Pabrik pengelolaan karet di tepian Kapuas menerimanya.

Kalian pernah datang ke pengelolaan karet? Pekerjaan di sana sebenarnya mudah, bal-bal karet hasil sadapan petani bercampur cuka dikirim ke pabrik lewat perahu-perahu. Jauh sekali perahu kayu berhiliran dari kebun penduduk di hulu Kapuas. Lantas mesin pabrik akan mengolahnya menjadi lembaran tipis belasan meter. Lembaran itu dikeringkan menjuntai dari atap gudang tinggi-tinggi bagai menjemur kain selendang, diangin-anginkan. Setelah kering, lembaran karet dimasukkan ke dalam kontainer, diangkut truk besar, dibawa ke pelabuhan, menuju pabrik berikutnya.

Bau, itulah hal paling memberatkan bekerja di pabrik karet. Hasil sadapan bercampur cukanya saja sudah bau, apalagi setelah diolah, lebih bau. Radius ratusan meter sudah menyengat, dan aku sialnya persis berada di hadapannya. Masker kain tiga lapis tidak mempan, partikel bau itu menusuk membuat tersengal. Maka seragam oranye itu tidak ada gagah-gagahnya lagi ketika aku pulang. (halaman 20-21)

Kemudian setelah 6 bulan Borno bekerja, ia terkena PHK. Kemudian Borno mencari pekerjaan lagi. Atas keberuntungan menjawab pertanyaan—memecahkan masalah bau cipratan air karet, ia bekerja kemudian di dermaga Feri. “Pakai daun singkong, Pak. Daunnya diremukkan, lantas dipakai untuk mencuci tangan yang terkena cipratan air karet.”

Di atas kebahagiaannya telah bekerja di tempat baru, ia menjadi sasaran amukan Bang Togar. Bahkan selebaran dipampang di sudut-sudut kampung ditambah wajah Borno untuk tidak mengangkut Borno dalam sepit Togar dan kawan-kawan saat akan berangkat bekerja. Borno kecewa.

Aku harus segera memilih, berhenti bekerja dari pelampung itu atau, cepat atau lambat, seluruh penghuni gang sempit memusuhiku. (halaman 39)

Borno teringat dengan wasiat Bapak. “‘Borno, jangan pernah jadi pengemudi sepit.” Pak Tua kemudian memberi nasihat kepada Borno, “Jamak itu Borno. Lazim sekali seorang petani bilang ke anaknya, ‘Nak, jangan jadi petani, tidak bisa kaya.’ Seorang guru SD bilang ke anaknya, ‘Nak, jangan jadi guru, hidupnya susah, makan hati pula.’ Seorang kuli kasar bilang ke anaknya, ‘Nak, jangan pernah jadi kuli, keringat diperas, gaji tak memadai.’ Tetapi maksud mereka tidaklah demikian. Hakikat sejati pesan itu adalah agar kau jadi lebih baik....”(halaman 53)

Saat Borno sudah berhenti dari pekerjaannya, memutuskan menjadi pengemudi sepit, ia harus berhadapan dengan Bang Togar, ketua PPSKT dan ia mengalami masa orientasi berlebihan. Ia menghabiskan seminggu tiga kali sehari untuk membersihkan jamban di dermaga sepit, sebelum akhirnya berlatih mengemudi sepit. Borno termasuk anak yang pintar karena beberapa kali berlatih mengemudi sepit, ia mampu lihai.

Ia sempat kebingungan menjadi pengemudi sepit tapi tak punya sepit. Tapi untunglah Pak Tua rela meminjamkan sepit pada Borno asal setor karena meminjam sepit Pak Tua.

Di hari pertama membawa Sepit, Borno menjadi olok-olok Bang Togar atas kemampuannya, karena itu jadi saat perdananya membawa sepit. Sebenarnya penumpang sudah penuh di sepit, namun karena penjelasan Bang Togar, mereka ikut merasa khawatir dan turun dari sepit. Sampai akhirnya petugas timer meminta mereka naik lagi. Sepit berangkat dan sampai seberang dengan baik.

Tak disangka Bang Togar secara mengejutkan memberikan sepit (hasil urunan warga kampung) kepada Borno. Ternyata masa orientasinya berakhir. Borno merasa terharu. Sampai Borno dilemparkan ke permukaan Kapuas. Sepit Borno dinamakan Sepit Borneo.

Kemudian petugas timer memberitahu Borno kalau ada barang tertinggal di sepit yang pertama ia kemudikan. Borno melihat Angpau Merah. Setelah itu Borno menjaga surat itu, meski Andi, sahabat Borno penasaran ingin membukanya. Borno melarangnya. Borno berusaha mati-matian mencari gadis berbaju kuning yang terlihat seperti orang Cina saat menaiki sepitnya tadi, Borno berkesimpulan barang itu milik gadis itu. Sampai uang habis untuk membayar solar. Semua berubah saat Jupri bertanya padanya, “Apakah kau sudah dapat Angpau?”

Borno diam. Setelah Borno jauh mencari ternyata ada disini—mungkin seperti itu pikirnya, Di pojok dermaga, gadis itu tersenyum manis membagikan amplop yang sama pada pengemudi sepit dan pedagang di sekitar dermaga.

Dua hari terakhir aku keliru menebak. Ternyata amplop merah itu tidak penting. Aku menghela nafas panjang, balik kanan, hendak melangkah gontai menuju sepit, menunggu antrean.
“Abang mau terima angpau juga?” suara merdu itu menyapa.
Aku menoleh. “Eh? Kau memanggilku?” (halaman 95)

Mulailah Borno berpikir: gadis itu harus naik sepitku saat hendak menyeberang. Dari mulai terlalu cepat datang, selisih satu penumpang, sampai akhirnya ia menemukan jam yang tepat bila ia ingin gadis itu menaiki sepit Borno, yaitu di sepit urutan tiga belas, pukul 7.15.

Borno juga berusaha ingin mengobrol dengan gadis itu sampai sengaja melambat-lambatkan sepit saat di jalan. Dan gadis itu pun merasa aneh karena akhirnya selalu naik sepit Bang Borno, begitu panggilannya. Borno pun tahu akhirnya nama gadis itu Mei, yang sedang PPL mengajar di Pontianak.

Borno dan Mei menjadi teman yang baik, dan suatu saat Mei tidak datang saat Borno akan pergi mengantarnya ke Istana Kadariah. Kabarnya ia pulang ke Surabaya. Akhirnya kebiasaan Borno banyak berubah yang asalnya selalu mengantri di sepit nomor tiga belas, ia pun mengisi waktu lagi dengan belajar jadi montir di bengkel ayahnya Andi. Bakat Borno terhadap mesin membuat ayah Andi tertarik.

Cerita berlanjut dengan kepergian Pak Tua dan Borno ke Surabaya untuk menemani Pak Tua melakukan terapi di Surabaya. Perjuangan mencari Mei dengan menelepon dari buku telepon dan ternyata setelah dua hari berjuang, Mei di hadapannya dan mereka bertiga berkeliling Surabaya. Sempat bertemu Fulan Fulani, sahabat lama Pak Tua, pasangan buta yang hidup bahagia dan membuat haru Borno, begitupula Mei.
*

Membaca kisah Borno dan Mei, “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah” (Gramedia, 2012) mengisahkan pengorbanan, percintaan dan keluarga. Sudut pandang novel ini ialah sudut pertama Borno. Suspens-suspen yang ada berkaitan dengan tokoh satu dengan yang lain. Alur maju mundur dimainkan secara menarik.

Semua kisah “Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah” berawal dari sini :
Umurku dua belas, duduk di lorong rumah sakit menangis sendirian terisak. Di ruangan berjarak sepuluh meter dariku, Bapak memutuskan menunaikan kebaikan terakhir. Aku selalu tahu—sebagaimana seluruh penduduk tepian Kapuas tahu—Bapak adalah orang baik yang pernah kukenal. Aku tidak tahu apakah ubur-ubur yang membuatnya meninggal atau pisau bedah dokter. (halaman 16)

Saat usia Borno 12 tahun, Borno harus kehilangan Bapak, karena Bapaknya telah mendonorkan jantungnya pada Ayah Sarah. Sarah kemudian diceritakan di dalam novel adalah seorang dokter gigi muda seusia Borno, tipikal perempuan yang cantik. Saat Andi sakit gigi, Pak Tua dan Borno menemani pergi ke dokter gigi. Akhirnya Sarah ingat dengan Pak Tua, teringat juga dengan Borno saat di lorong rumah sakit. Sarah sangat senang bertemu dengan Borno. Lama Sarah berusaha mencari dan tidak bertemu ujungnya, karena pihak keluarga Bapak Borno tidak mau diketahui yang telah menolong.

“Kau ingat, Abang, dini hari itu kau justru hendak mengusirku. Aku ingat sekali wajah kau, wajah sedih, tidak mengerti apa yang telah dilakukan bapak kau. Tahukah Abang, dini hari itu aku bersumpah apa pun yang terjadi pada bapakku, aku akan mencari kau, anak dari seseorang yang telah meminjamkan kehidupan pada bapakku. Ya Tuhan, setelah lama mencari.” (halaman 317).

Sarah kemudian mengundang Borno sekeluarga makan malam bersama. Selanjutnya pula Sarah dan keluarga besar datang ke rumah Ibu Borno. Ibu Sarah memeluk Borno dan berkata,
“Kau tahu, Nak,” wanita itu menyeka pipi, berlinang air mata,” suamiku bukan hanya menyaksikan anak-anak kami menikah, berkeluarga, melihat cucu-cucunya. Suamiku bahkan sempat menyaksikan Sarah menjadi dokter. Itu sungguh kebahagiaan terbesarnya. Terima kasih, Nak. Sungguh terima kasih”. (halaman 330)

Ternyata Mei pula berkaitan dalam hal ini. Mama Mei adalah dokter yang telah melakukan pendonoran jantung. Mama Mei sudah berbulan-bulan sakit karena memikirkan masa lalunya karena sudah menghabiskan usia seorang Bapak yang masih bisa diusahakannya (Mei baru tahu dari buku harian mamanya).

Mei merasa bersalah, alasan utama Mei menyengaja dari Surabaya pergi ke Kalimantan untuk melihat Borno, dan angpau yang ditinggalkan kali pertama saat Borno mengemudi sepit, ternyata bukanlah angpau biasa. Itu adalah surat dan baru dibaca Borno pada saat Mei pergi hampir setahun dari Surabaya. (Selengkapnya di halaman 499-502).

Setelah hampir setahun, Borno tahu dari Bibi Mei kalau Mei sudah hampir tiga bulan jatuh sakit. Ia kemudian berangkat ke Surabaya. Perasaan Borno tidak berubah saat tahu Mama Mei dahulu yang membuat tangis Borno di lorong begitu keras. 6 bulan kemudian Borno  berkuliah dan bisnis Borno telah maju di jalan Sudirman, jalan paling besar di Pontianak. [ ]
Bandung, 5 Agustus 2012


 [SEKILAS]     T E R E   L I Y E

Tere-liye lahir di Palembang, 21 Mei 1979, lelaki bernama Bang Darwis, yang beristrikan Riski Amelia, adalah seorang ayah dari Abdullah Pasai. Lahir dan besar di pedalaman Sumatera, berasal dari keluarga petani, anak keenam dari tujuh bersaudara. Berlatar pendidikan di Fakultas Ekonomi UI.

Karya-karyanya:
1. Kisah Sang Penandai
2. Ayahku (Bukan) Pembohong
3. ELIANA, Serial Anak-anak Mamak
4. Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin
5. PUKAT, Serial Anak-anak Mamak
6. BURLIAN, Serial Anak Mamak
7. Hafalan Shalat Delisa
8. Moga Bunda Disayang Allah
9. Bidadari-bidadari Surga
10. Rembulan Tenggelam di Wajahmu
11. Senja Bersama Rosie
12. Mimpi-mimpi si Patah Hati
13. Cintaku Antara Jakarta & Kualalumpur
14. The Gogons Series 1
15. Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah


"Tere Liye" merupakan nama pena dari seorang novelis yang diambil dari bahasa India dengan arti : untukmu, untuk-Mu. Awal tahun 2012, ditayangkan serial TV (15 episode) bertajuk "Serial Anak Kaki Gunung" yang diangkat dari Serial Anak-anak Mamak karya Darwis Tere-Liye, dari tetralogi tiga buah, yaitu: Burlian, Pukat, Eliana. Sedangkan novel "Amelia" rencananya baru akan terbit akhir tahun ini. Serial TV ini digarap oleh Bang Dedi Mizwar, salah satu sineas idealis Indonesia.

Novelnya ini mengangkat dunia anak-anak yang mengangkat standard moralitas, kebaikan, kasih sayang keluarga, kesederhanaan yang dibungkus dengan kepolosan, dan keterbatasan anak-anak. Buku-buku ini tentang anak-anak Mamak yang tinggal di kampung pedalaman.

Setelah Burlian si anak spesial yang bercita-cita melihat dunia dengan kapal-kapal besar, dilanjutkan dengan Pukat si anak pintar, yang ingin menjadi peneliti dan menemukan harta karun terbesar kampungnya, kini dilanjutkan dengan Eliana, si anak sulung yang pemberani dan tidak bisa tinggal duduk diam melihat ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan yang terjadi di depan matanya.

Di buku keempat ini, tidak hanya menceritakan tentang aksi Eliana bersama teman-temannya yang tidak bisa tinggal diam melihat kampung mereka diporak-porandakan penambang pasir rakus dari kota, mengeruk pasir di delta sungai kampung mereka tanpa mempedulikan dampak yang ditimbulkannya, tapi juga menceritakan Eliana sebagai anak sulung mamak dengan segala tanggung jawab terhadap ketiga adiknya serta konflik-konflik dengan teman-teman di sekolahnya. [Sri Al ]